Oleh Dedy Gunawan
Memang nasib orang tidak bisa ditebak. Siapa sangka tanggal 22 November 2007 menjadi sebuah hari yang bersejarah, karena untuk pertama kalinya aku ikut konferensi penelitian pendidikan (Educational Research Conference 2007) di Australia. Kenapa begitu istimewa? Karena aku menjadi salah satu presenter di konferensi yang bertajuk “Envisaging Educational Futures” itu. Konferensi itu dilaksaakan di kampus Flinders University, Adelaide.
Adalah Paul Jewell, dosen senior Ethics in Education Flinders University, yang “menodong”ku mempresentasikan hasil kajian pustakaku yang berjudul “Solving the Indonesian National Examination Problem: Ethical Strategies”. Pada mulanya aku ragu untuk mempresentasikannya, karena dalam batin bergulat sebuah dilema: Apakah kalau aku mempresentasikannya, aku tidak dalam posisi ‘menelanjangi’ pendidikan di Indonesia di depan peserta-peserta yang berasal dari berbagai negara itu? Karena salah satu hal yang aku presentasikan adalah “nyontek bersama” antara siswa, guru dan kepala sekolah, yang didukung oleh kepala dinas pendidikan di beberapa sekolah di beberapa daerah di Indonesia pada UN 2007. Sedangkan di negara-negara maju, sekedar salah kutip ketika menulis essay saja sudah dianggap plagiarisme. Bagaimana nanti mereka mau melihat bangsa kita?
Akhirnya aku menjadi pedhe setelah melihat-lihat bahwa banyak koran online baik berbahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris yang sudah terlebih dahulu membeberkan hal yang sama, utamanya hasil investigasi tim depdiknas tentang 37 kecurangan dalam UN, pengakuan Komunitas Air Mata Guru, dan pengakuan siwa-siswa SMP dan SMA yang dilansir oleh media-media itu. Artinya, berita tentang organised cheating di Indonesia sudah tersebar ke mana-mana dan bukan lagi“rahasia negara”. Terlebih, yang aku tawarkan adalah sebuah jalan pemecahan.
Hal kedua yang terjadi adalah… grogi. Rasanya baru pernah aku merasa senervous ini. Bagaimana tidak, presentasi dalam Bahasa Indonesia saja blekathak blekuthuk, bagaimana kalau dengan Bahasa Inggris? Dua hari menjelang presentasi sempat terpikir untuk mundur saja. Namun dengan berbagai “pertimbangan waras”, dan persiapan yang dicukup-cukupkan – karena berbarengan dengan pengerjaan tugas-tugas kuliah, akhirnya maju adalah pilihan tepat. Satu menit setelah presentasi, aku merasa telah menjadi pemenang dalam sebuah pertandingan gulat kelas super berat melawan ketakutan.
Hal paling mengesankan dalam presentasi itu adalah bagaimana para peserta menghormati sebuah keterbatasan. Mereka, dengan Bahasa Inggrisku yang ndrengkeyeng, mau begitu tekun mendengarkan penjelasan yang aku sampaikan. Rasanya, selama presentasi, baik presentasiku maupun presentasi peserta-peserta yang lain, tidak terlihat adanya ‘pembantaian’, satu hal yang lazim terjadi di forum-forum diskusi di negeriku. Ini menjadi sebuah pelajaran penting bagiku.
‘Iintegrity is more important than honesty’ kata Adi Suryani, dosen ITS Surabaya yang juga melakukan presentasi di forum yang sama. Ada kalanya, demi orang lain, demi perdamaian dan kemanusiaan, kita harus menyembunyikan sebuah kejujuran.
Kini, buah dari presentasi itu, aku semakin paham tentang satu hal: dunia akademis membutuhkan kesabaran, kebijaksanaan dalam berfikir, dan kedewasaan dalam berargumentasi.
Satu beban terlewati, di luar sana Summer membakar rumput dan pepohonan.
______________________________________________________________________________________
Untuk melihat abstrak dan jadwal konferensi, klik Educational Research Conference 2007 Booklet



